"Jika kau tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka kau akan merasakan perihnya kebodohan." (Imam Syafi'i)
Profesionalisme Muslim Berawal dari Ihsan dan Itqan
MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ikhwan Ahada, mengajak umat Islam menjadikan nilai ihsan dan itqan sebagai fondasi utama dalam membangun profesionalisme serta mengembalikan kejayaan peradaban Islam.
Pesan tersebut disampaikannya dalam Khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (26/6).
Menurut Ikhwan, ketakwaan tidak cukup dipahami sebatas menjalankan kewajiban agama, tetapi harus diwujudkan melalui kesungguhan mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menjauhi segala larangan-Nya. Ia mengutip penjelasan Ibrahim Assawi dalam kitab Minhaj Assawi yang menguraikan empat indikator ketakwaan berdasarkan perkataan Sayidina Ali bin Abi Thalib.
“Takwa adalah takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu yang diturunkan, mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat, dan bersikap qanaah terhadap kehidupan dunia,” ujarnya.
Empat indikator tersebut, lanjut Ikhwan, menggambarkan karakter seorang mukmin yang senantiasa menempatkan syariat Allah sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Rasa takut kepada Allah mendorong seseorang untuk berhati-hati dalam setiap ucapan maupun perbuatannya agar selalu sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunah.
Selain itu, orang bertakwa memiliki orientasi hidup yang tidak berhenti pada kehidupan dunia. Ia menyadari bahwa kehidupan yang hakiki adalah kehidupan setelah kematian sehingga seluruh amal yang dilakukan diarahkan sebagai bekal menuju akhirat.
“Orang bertakwa juga memiliki sikap transendental. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur. Ketika mendapat musibah, ia bersabar. Semua dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” jelasnya.
Ikhwan kemudian menegaskan bahwa ketakwaan harus melahirkan perilaku ihsan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Qashash ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash [28]: 77).
Menurutnya, ihsan sering dimaknai sebagai berbuat baik. Namun hakikat ihsan jauh lebih luas daripada itu. Ihsan berarti melakukan sesuatu melebihi standar atau ekspektasi yang lazim.
“Allah memberikan nikmat kepada kita jauh melampaui apa yang kita harapkan. Maka sebagai hamba, kita juga dituntut menghadirkan ihsan dalam setiap amal yang kita lakukan,” katanya.
Selain ihsan, Al-Qur’an juga mengajarkan konsep itqan, yakni bekerja secara sungguh-sungguh, teliti, dan menghasilkan karya yang sempurna. Hal itu sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Naml ayat 88:
صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ
“Itulah ciptaan Allah yang menyempurnakan segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml [27]: 88).
Ikhwan menjelaskan, kesempurnaan ciptaan Allah menjadi teladan bagi manusia agar melaksanakan setiap pekerjaan secara optimal, efektif, dan penuh tanggung jawab.
Prinsip tersebut, lanjutnya, juga ditegaskan oleh Rasulullah Saw melalui hadis riwayat Imam Muslim:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan terhadap segala sesuatu.” (HR. Muslim No. 1955).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa ihsan bukan hanya berlaku dalam ibadah, melainkan juga dalam seluruh aktivitas kehidupan, termasuk hubungan sosial, pekerjaan, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Lebih lanjut, Ikhwan juga mengutip hadis yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia mengerjakannya secara itqan (sempurna).” (HR. Al-Baihaqi).
Menurutnya, itqan berarti menyelesaikan pekerjaan secara efektif, efisien, cermat, dan menghasilkan kualitas terbaik. Sementara ihsan merupakan semangat memberikan nilai lebih dalam setiap amal yang dilakukan. Perpaduan kedua nilai tersebut akan melahirkan pribadi Muslim yang profesional.
“Ihsan dan itqan merupakan konsep dasar dalam Islam untuk menjalankan setiap profesi. Apa pun pekerjaan kita, jika dilakukan dengan ihsan dan itqan, maka akan melahirkan profesionalisme yang menopang keberhasilan hidup di dunia sekaligus menjadi bekal di akhirat,” ujarnya.
Pada bagian akhir khutbah, Ikhwan memaparkan beberapa langkah praktis untuk mengimplementasikan ihsan dan itqan, di antaranya:
Pertama, setiap pekerjaan harus direncanakan secara matang, dilaksanakan dengan baik, lalu dievaluasi.
Kedua, setiap tugas harus diselesaikan hingga tuntas, tidak berhenti di tengah jalan.
Ketiga, seseorang harus fokus terhadap target yang telah ditetapkan agar hasilnya optimal.
Keempat, hasil pekerjaan perlu diteliti kembali sebelum dinyatakan selesai sehingga kualitasnya benar-benar terjaga.
Ia menilai semangat profesionalisme inilah yang dahulu menjadi salah satu faktor utama yang mengantarkan umat Islam memimpin peradaban dunia. Karena itu, apabila saat ini umat Islam belum kembali menjadi pelopor kemajuan, maka introspeksi dan pembenahan diri menjadi langkah yang tidak bisa dihindari.
“Jika saat ini umat Islam belum berada pada posisi menentukan arah peradaban manusia, maka sesungguhnya kita harus melakukan evaluasi diri. Profesionalisme harus dibangun dengan sungguh-sungguh agar umat Islam mampu kembali mengambil peran sebagai pelopor peradaban,” tuturnya.
Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/07/profesionalisme-muslim-berawal-dari-ihsan-dan-itqan/
Ihsan dan Itqan-lah dalam Mengemban Tugas
Oleh Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc
Ihsan dan itqan adalah dua istilah yang terdapat dalam Alquran dan sunah yang berkaitan dengan amal perbuatan seorang Muslim yang harus dilakukannya dalam hidup dan kehidupannya di dunia ini. Ihsan berarti optimalisasi dalam kebaikan. Artinya, kebaikan apa pun yang dilakukan seorang Muslim harus selalu optimal dalam persiapan dan pelaksanaannya, agar hasilnya didapat secara optimal pula.
Allah SWT berfirman dalam QS al-Mulk [67]: 2: "(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."
Jika seorang Muslim sedang melakukan ibadah maka dipersiapkan dan dilakukan dengan baik, baik ilmu pengetahuan yang berkaitan dengannya maupun teknis pelaksanaannya. Ketika melaksanakan ibadah haji, misalnya, ilmunya dipersiapkan, tata cara pelaksanaannya disempurnakan, juga menjaga kesehatan jasmani rohani, sehingga betul-betul predikat haji mabrur dapat diraih, termasuk menjaga dan mempertahankannya ketika ia sudah kembali ke kampung halamannya.
Seorang Muslim yang sedang mendapatkan amanah jabatan publik di wilayah eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif, ia penuhi amanah tersebut dengan semaksimal mungkin agar betul-betul mampu mempersembahkan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat dan bangsa di wilayah pekerjaannya tersebut. Amanah dan profesionalitas merupakan ciri utama dari pejabat Muslim tersebut. Karena disadarinya, semuanya akan dipertanggungjawabkan kepada konstituennya di dunia ini dan terutama kepada Allah SWT kelak kemudian hari, dan selalu berusaha menjauhi sifat khianat.
Allah SWT berfirman dalam QS al-Anfal [8]: 27: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui."
Sedangkan, itqan berarti kesungguhan dan kemantapan dalam melaksanakan suatu tugas, sehingga dikerjakannya secara maksimal, tidak asal-asalan, sampai dengan pekerjaan tersebut tuntas dan selesai dengan baik. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melaksanakan suatu pekerjaan, maka pekerjaaan tersebut dilakukannya dengan itqan." (HR Thabrani).
Karena itu, ihsan dan itqan harus selalu menjadi ruh dan spirit bagi setiap Muslim dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya, baik yang berhubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia, sehingga pekerjaannya itu akan selalu bernilai ibadah dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Wallahu a'lam.
Sumber https://khazanah.republika.co.id/berita/lkrbfx/ihsan-dan-itqanlah-dalam-mengemban-tugas
Menjadi Profesional Merupakan Fardhu ‘Ain Bagi Setiap Muslim dalam Bekerja
Oleh: Muhammad Zakiy
Bekerja sebagai seorang muslim tentunya memiliki tanggung jawab yang besar karena sebagai hamba Allah tugas utama kita adalah beribadah kepada-Nya, namun hal ini tidak lantas mengabaikan kewajiban kita sebagai manusia yang harus bekerja untuk mencari nafkah. Oleh karena itu, menjadi profesional merupakan fardhu ‘ain bagi setiap muslim dalam bekerja karena menjadi professional dalam bekerja merupakan kewajiban yang wajib dilakukan oleh setiap muslim secara individual, tidak dapat digantikan oleh orang lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesional diartikan sebagai orang yang bekerja dalam bidang tertentu dengan kemampuan dan keahlian yang memadai serta menuntut kualitas dan kinerja yang tinggi.
Dalam konteks Islam, tentunya menjadi profesional tidak hanya sekedar memiliki keahlian dan kualitas tinggi, namun juga harus didasari dengan prinsip-prinsip Islam yang sesuai dengan nilai-nilai agama. Untuk itu, kita perlu memahami bahwa menjadi profesional dalam konteks Islam bukanlah semata-mata untuk mencari keuntungan dan pengakuan, melainkan untuk mengembangkan diri secara holistik dan memberikan manfaat tidak hanya untuk diri sendiri, namun bagi institusi, masyarakat maupun bagi mahluk lainnya.
Hal yang perlu diingat adalah bahwa kewajiban utama kita sebagai muslim adalah beribadah kepada Allah, namun bekerja juga merupakan kewajiban yang harus dilakukan sebagai manusia. Oleh karena itu, jika kita memutuskan untuk bekerja, maka kita harus melakukan dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Dalam QS At-Taubah Ayat 105, Allah SWT berfirman:
وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman QS Al-Bayyinah Ayat 7:
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
Kedua ayat ini jelas mengajarkan bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan oleh seorang muslim haruslah dilakukan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan, dan sebaik-baiknya mahluk adalah orang yang beriman dan melakukan amal saleh. Ayat-ayat ini juga mengingatkan kita bahwa setiap tindakan yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan di akhirat, baik itu tindakan yang baik maupun buruk. Selain itu, iman dan amal saleh merupakan dua hal yang saling terkait erat, sehingga kita tidak bisa mengklaim diri sebagai orang yang beriman tanpa melakukan amal saleh, begitu juga sebaliknya. Hal ini menjadikan kita harus selalu berusaha untuk melakukan tindakan yang baik dan sesuai dengan ajaran Islam, termasuk menjadi professional dalam lingkup pekerjaan. Seperti yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)
Artinya: Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (professional)”. (HR. Thabrani, No: 891, Baihaqi, No: 334).
Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menyatakan bahwa Allah SWT mencintai seseorang yang mengerjakan pekerjaannya dengan itqan. Kata “itqan” dalam hadis ini merujuk pada kualitas bekerja dengan sungguh-sungguh, tekun, dan berusaha sebaik mungkin atau dapat disebut profesional. Orang yang bekerja dengan itqan adalah seseorang yang tidak hanya menyelesaikan tugasnya, tetapi juga berusaha memberikan hasil terbaik dan memenuhi standar kualitas yang diharapkan.
Hadis ini menunjukkan pentingnya bekerja dengan itqan dalam Islam. Seorang muslim diwajibkan untuk bekerja keras dan memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Dalam konteks bekerja, itqan mencakup komitmen untuk melakukan pekerjaan dengan baik, memenuhi kualitas yang diharapkan, mematuhi standar etika, serta bertanggung jawab atas pekerjaan yang dilakukan. Dalam Islam, seseorang yang berusaha keras dan memberikan manfaat bagi orang lain akan dihargai dan diakui nilai-nilai kebaikannya oleh Allah SWT.
Dalam konteks bekerja, menjadi profesional merupakan hal yang sangat penting karena dapat membangun citra positif bagi kita dan umumnya bagi umat muslim. Namun, menjadi profesional bukanlah suatu hal yang mudah karena banyak tantangan dan hambatan yang sering kita alami. Kita dihadapkan dengan berbagai macam tekanan dan tuntutan yang membuat kita sulit untuk tetap menjadi profesional. Misalnya, tekanan untuk mencapai target yang tinggi atau konflik dengan rekan kerja.
Selain itu, faktor pribadi seperti kesibukan melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif dan banyak menyita waktu merupakan salah satu hambatan dalam menjadi professional dalam bekerja. Kita juga sering menunda-nunda kewajiban dan pekerjaan yang merupakan bentuk lain dari ketidakprofesionalan dalam bekerja, padahal waktu kita di masa depan belum tentu tidak lebih sibuk dari waktu yang kita miliki sekarang. Hal ini juga telah diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadits dari Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa kita tidak boleh menunda-nunda pekerjaan hingga waktu yang tepat terlewat.
Dengan alasan menjalankan kepentingan lain, seringkali kita lalai dalam menjalankan kewajiban kita sebagai pekerja yang professional. Hal ini tentunya berlawanan dengan nilai-nilai profesionalisme seorang pekerja yang merupakan kewajiban bagi seluruh muslim dalam bekerja. Beberapa penelitian dalam perilaku organisasi juga menemukan bahwa karyawan yang berperilaku buruk seperti virus yang dapat menularkan perilaku buruk tersebut kepada karyawan lain dan tentunya akan merusak sistem organisasi yang sudah dibangun dengan baik. Dampak dari ketidakprofesionalan yang dilakukan bukan hanya menghambat kinerja organisasi, namun berdampak buruk pada perilaku individu orang tersebut baik karir maupun kinerjanya.
Untuk itu, dibutuhkan upaya dan komitmen untuk terus belajar dan mengembangkan diri, serta mengedepankan prinsip-prinsip Islam dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil. Seorang profesional harus memiliki integritas yang tinggi dan memperhatikan etika kerja, seperti menjaga kejujuran, menghormati hak-hak orang lain, dan berperilaku baik dalam lingkungan kerja. Selain itu, seorang profesional juga harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja yang berbeda-beda serta mampu berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Hal ini sangat penting dalam menjalin hubungan kerja yang baik dan membangun kolaborasi yang produktif dengan rekan kerja dan konsumen agar dapat menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat. Dengan kata lain, pekerja yang professional bekerja bukan hanya untuk mencari nafkah untuk hidup, tapi juga menghidupi lingkungan kerja, organisasi dan masyarakat berdasarkan keridhaan Allah SWT.
Dalam konteks Islam, menjadi profesional juga harus diiringi dengan niat yang ikhlas dan bertujuan untuk mencari ridha Allah. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memastikan bahwa pekerjaan yang dilakukan tidak melanggar prinsip-prinsip Islam dan tidak membahayakan orang lain. Selain itu, seorang muslim yang profesional juga harus memperhatikan hak-hak orang lain, seperti hak-hak karyawan, konsumen dan lingkungan sekitar. Karyawan yang bekerja secara sungguh-sungguh dan professional juga merupakan aset yang berharga bagi perusahaan dan dapat menjadi role model yang menginspirasi pekerja lain untuk berkembang. Hal ini merupakan ajaran Islam yang dicontohkan melalui Rasulullah SAW dalam setiap perilakunya baik dalam beribadah maupun bermuamalah.
Dalam kesimpulannya, menjadi profesional di dunia kerja merupakan hal yang sangat penting bagi setiap muslim. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan kewajiban untuk mencari nafkah halal, namun juga merupakan bagian dari pengembangan diri yang holistik dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, menjadi profesional harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan memperhatikan etika kerja yang baik. Dalam hal ini, menjadi profesional dalam bekerja dapat dianggap sebagai fardhu ‘ain yang harus dilakukan oleh setiap individu yang beragama Islam. Namun, yang terpenting adalah menjalankan pekerjaan dengan sebaik-baiknya dan bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT.
Muhammad Zakiy, Dosen Program Studi Ekonomi Syariah UMY, Mahasiswa Program Studi Perekonomian Islam & Industri Halal UGM
Sumber https://web.suaramuhammadiyah.id/2023/05/31/menjadi-profesional-merupakan-fardhu-ain/
Menjadi Pekerja yang Amanah
Selasa, 13 Agustus 2024
Oleh Abu Yahya Badrusalam
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanah, ia berkhianat.” (HR. Bukhari)
Agar kita dapat menjaga amanah, maka kita membutuhkan beberapa hal berikut ini.
Memiliki rasa takut kepada Allah
Rasa takut ini harus tumbuh dalam hati, karena kita harus sadar bahwa jika tidak menunaikan amanah atau berkhianat, kita berdosa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dosa ini membawa kesialan di dunia dan akhirat.
Menjadi orang yang profesional
Kedua, untuk benar-benar amanah, kita harus menjadi orang yang profesional. Artinya, kita harus melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang, apabila melakukan suatu pekerjaan/amal, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya (itqan).” (HR. Bukhari)
Kita harus berusaha untuk selalu meningkatkan diri dan melakukan introspeksi atau muhasabah. Bagaimana selama ini kita bekerja? Jika tidak muhasabah, kita mungkin merasa sudah melakukan pekerjaan dengan baik, padahal sebenarnya banyak kekurangan yang tidak disadari.
Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Kita harus menyadari bahwa setiap perbuatan akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pertanggungjawaban terbesar adalah kepada-Nya. Di dunia, mungkin kita bertanggung jawab kepada pemimpin, tetapi di akhirat, kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, penting untuk selalu muhasabah dan memperbaiki diri.
Sering kali kita perlu melakukan muhasabah atau introspeksi diri, terutama ketika kita diluruskan atas kekurangan atau kesalahan. Jika ada yang mengoreksi, kita seharusnya menyadari hal tersebut dan berterima kasih, bukan malah marah atau merasa tersinggung.
Sebagian orang bekerja dengan malas, namun tetap mengharapkan gaji penuh. Padahal jika diberikan gaji penuh, dia akan berdosa. Karena dia sudah mengambil gaji yang tidak layak untuknya.
Kita perlu introspeksi sebelum bekerja. Pertama, periksa niat. Apakah niat bekerja untuk mencari nafkah guna menafkahi anak dan istri, yang hukumnya wajib dan mendatangkan pahala? Kedua, apakah niat kita dalam bekerja untuk menunaikan amanah, yang juga hukumnya wajib dan mendapatkan pahala besar? Dengan niat yang baik inilah, kita bisa meraih pahala yang besar.
Selanjutnya, setelah bekerja, penting untuk muhasabah kembali. Apakah selama bekerja sudah menjalankan amanah dengan baik? Apakah ada kekurangan dalam pekerjaan kita? Setan sering kali menggoda untuk tidak amanah, misalnya dengan mengalihkan perhatian kita ke hal-hal di luar pekerjaan, seperti bermain game atau terlalu sibuk dengan WhatsApp. Ini sangat berbahaya karena kita kurang amanah.
Selain itu, kita juga harus introspeksi tentang kedisiplinan waktu. Jangan sampai kita melakukan korupsi waktu, misalnya bekerja dari jam tertentu tetapi baru masuk satu jam setelahnya. Jika kita tetap menerima gaji penuh sementara ada waktu yang dikorupsi, maka gaji satu jam tersebut menjadi haram dan sama saja memasukkan api neraka ke dalam perut.
Saling Menasihati dalam Bekerja
Sangat penting bagi kita untuk saling menasihati. Jika ada teman yang bekerja dengan seenaknya atau semena-mena, janganlah didiamkan. Harus saling menasihati dalam kebenaran. Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Asr [103]: 1-3).
Jika kita tidak saling menasihati dan cuek terhadap kesalahan teman, akibatnya kita membiarkan teman untuk terus melakukan kesalahan yang sebenarnya mampu kita ingkari. Akibatnya, kita menjadi seperti “setan bisu” (syaithan akhras), sebagaimana kata para ulama.
Namun, saling menasihati ini memang memerlukan kesiapan dari kedua belah pihak, baik yang menasihati maupun yang dinasihati. Seringkali, yang sulit adalah menerima nasihat. Ketika dinasihati, banyak orang yang tidak terima. Hal ini biasanya disebabkan oleh kesombongan dan keangkuhan dalam hati. Kita merasa sudah sempurna dan telah melakukan segalanya dengan sebaik-baiknya, padahal kenyataannya tidak demikian.
Banyak orang yang, ketika diberi tahu kesalahannya, malah marah dan memusuhi orang yang menasihatinya. Ini adalah masalah besar dan merupakan penyakit. Al-Imam Adz-Dzahabi menyebutkan perkataan Ibrahim bin Adham, yang mengatakan bahwa belum mengenal Allah seseorang yang masih mencintai ketenaran. Menurut Imam Adz-Dzahabi, tanda orang yang ikhlas adalah ketika dia diingatkan akan kesalahannya, hatinya tidak merasa panas atau ngeyel, tetapi dia mengakui kesalahannya. Bahkan, dia berdoa:
رَحِمَ اللَّهُ مَنْ أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي
“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kesalahanku.”
Masya Allah, ini adalah tanda orang yang hebat dan ikhlas, karena dia bersedia diingatkan dan dinasihati. Sifat ini sangat kita butuhkan dalam bekerja.
Saling Membantu dalam Bekerja
Saudaraku seiman, agar kita amanah dalam bekerja, sangat penting untuk saling bahu-membahu dan membantu satu sama lain. Tidak baik jika seseorang individualis dalam bekerja. Allah Ta’ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).
Perlu kita ingat, setan selalu berusaha menanamkan bibit-bibit permusuhan di antara kita, sehingga kita saling membenci dan tidak suka satu sama lain. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
“Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di Jazirah Arab, akan tetapi ia (bersemangat) untuk menanamkan permusuhan di antara mereka.” (H.R Muslim)
Permusuhan sering kali berawal dari prasangka buruk, yang biasanya muncul karena kurangnya komunikasi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk saling membantu dan bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan, serta menghindari membantu dalam dosa dan permusuhan. Kita harus berusaha untuk saling bahu-membahu, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.
Mencintai Pekerjaan
Saudaraku seiman, agar kita dapat amanah dalam bekerja, penting bagi kita untuk berusaha mencintai pekerjaan kita. Jika seseorang melakukan pekerjaan dengan keterpaksaan atau tidak menyukai pekerjaannya, biasanya hasilnya tidak optimal. Maka salah satu cara untuk menjadi amanah adalah dengan mencintai pekerjaan tersebut dan merasa memilikinya. Dengan begitu, semangat dalam bekerja akan meningkat, karena cinta adalah sumber semangat.
Sebagai contoh, jika seseorang mencintai harta, pasti ia semangat mencari harta. Jika mencintai seseorang, semangat untuk mendapatkannya pun tinggi. Semangat muncul karena adanya cinta dan harapan. Oleh karena itu, kita perlu berusaha mencintai pekerjaan kita.
Bagaimana cara mencintai pekerjaan? Pertama, kita harus menilai apakah pekerjaan kita sesuai dengan syariat atau tidak. Jika sesuai dan halal, alhamdulillah. Kedua, apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan keahlian dan bakat kita? Jika iya, alhamdulillah. Selanjutnya, kita tinggal menikmati pekerjaan tersebut sambil meniatkan untuk mendapatkan pahala yang besar dari Allah.
Tawakal kepada Allah
Ketika melakukan pekerjaan, jangan pernah lepas dari tawakal, karena kita tidak mungkin bisa melakukan pekerjaan tanpa bantuan dari Allah. Jika Allah tidak membantu, kita tidak akan mampu, tetapi jika Allah membantu, pasti kita bisa melakukannya. Jangan pernah menyandarkan diri hanya pada skill dan kemampuan semata. Memiliki skill sangat bagus, tapi sebesar apa pun skill kita, tanpa bantuan Allah tetap akan sulit.
Allah berfirman:
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 23)
Tawakal sangat dibutuhkan dalam setiap aktivitas kita. Bahkan saat makan pun kita harus tawakal. Ketika berangkat dari rumah, kita mengucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.” (HR. Abu Dawud)
Berdoa meminta kekuatan dan kesabaran
Selain tawakal, doa juga sangat penting. Meminta kepada Allah kekuatan dan kesabaran, karena melaksanakan pekerjaan membutuhkan kesabaran, apalagi jika pekerjaan tersebut membosankan, tidak kita sukai, atau berat. Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah agar diberikan kesabaran dalam melaksanakan pekerjaan. Doa adalah senjata setiap orang yang beriman. Jangan pernah lupa untuk banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hal-Hal yang Perlu Dihindari dalam Bekerja
Ada beberapa hal yang perlu kita hindari dalam bekerja agar kita dapat menjalankan amanah dengan baik.
Pertama, hindari sifat malas. Sifat ini tidak disukai oleh Allah, karena seorang mukmin harus selalu semangat. Salah satu hikmah mengapa kita disuruh menahan menguap adalah karena menguap menimbulkan rasa malas, sementara bersin menimbulkan semangat.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
اِحْرِصْ عَلٰى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللّٰهِ وَلَا تَعْجَزْ
“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah, dan jangan lemah.”
(HR. Muslim)
Kedua, hindari tergesa-gesa dalam bekerja. Ketergesa-gesaan biasanya menghasilkan pekerjaan yang tidak maksimal dan mengecewakan. Dalam sebuah riwayat,
اَلْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Tergesa-gesa adalah dari setan.”
Ketiga, hindari sifat tidak qana’ah atau merasa tidak cukup. Jika qadarullah gaji kita kecil dibandingkan dengan yang lain, mungkin itu sesuai dengan pekerjaan kita. Kemudian kita harus berfikir juga bahwa yang sedikit ini saja belum bisa disyukuri, bagaimana dengan yang banyak? Gaji yang kecil jika disyukuri, maka insyaAllah berkah. Allah berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Keempat, hindari iri hati terhadap karunia yang Allah berikan kepada orang lain. Allah berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Dan janganlah kalian mengharap-harapkan sesuatu yang Allah telah utamakan sebagian kalian diatas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa’ [4]: 32)
Terakhir, hindari persaingan yang tidak sehat dalam bekerja. Saling menjatuhkan dan menjelikan satu sama lain tidak akan membawa kebaikan. Sifat tamak terhadap harta dan kedudukan sering kali menjadi penyebabnya.
Sebagai penutup, penting bagi kita untuk ikut serta duduk dalam majelis taklim, sempatkan walaupun hanya bisa sepekan sekali. Karena keberkahan itu dari ilmu dan amal shalih.
Kewajiban kita untuk terus memperbaiki diri. Sehingga kita termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits: “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila melakukan suatu pekerjaan, dia melakukannya dengan itqan (profesional).” (HR. Bukhari)