Bantuan dari Tuhan Robbul Alamiin Teramat Diperlukan Dalam Penuntasan Perkara
Doa Nabi Ibrâhim ‘alaihissalâm yang Allah ﷻ abadikan dalam al-Qur`an,
﴿وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ ٨٧ يَوْمَ لا يَنْفَعُ مالٌ ولا بَنُونَ ٨٨ إلّا مَن أتى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾
“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah ﷻ dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’arâ`: 87-89)
Nabi Muhammad ﷺ menegaskannya, di antaranya dalam sabda beliau,
((إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ))
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.”([1])
Nabi Muhammad ﷺ bercerita tentang seorang wanita berkulit hitam, namun ia penghuni surga. Diriwayatkan Imam al-Bukhari rahimahullâh, dari Atha’ bin Abi Rabah, ia menuturkan, radhiyallâhu ‘anhâ
“Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ pernah berkata kepadaku, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penduduk surga?’ Aku menjawab, ‘Tentu’. Dia berkata, ‘Dialah wanita yang berkulit hitam, dia pernah menemui Nabi Muhammad ﷺ sambil berkata Sesungguhnya aku menderita shara` dan auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah ﷻ untukku’. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ))
‘Jika kamu ingin (pilih) bersabar maka bagimu surga, dan jika kamu ingin maka aku akan berdoa kepada Allah ﷻ agar Allah ﷻ menyembuhkanmu’.
Wanita itu berkata, ‘Aku akan bersabar’. Wanita itu berkata lagi, ‘Akan tetapi auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah ﷻ agar (auratku) tidak tersingkap’. Maka Nabi Muhammad ﷺ kemudian berdoa untuknya.”([3])
Ibnu Mas’ud RA pernah berkata,
((إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ أَوْعِيَةٌ فَاشْغَلُوهَا بِالْقُرْآنِ، وَلَا تَشْغَلُوهَا بِغَيْرِهِ))
“Sesungguhnya hati ini (bagaikan) sebuah wadah, maka sibukkanlah dia dengan al-Qur`an dan jangan sibukkan dengan selainnya.”
Dalam sebuah hadis, Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu anhu berkata,
“Ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, ‘Manusia bagaimana yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Semua (orang) yang hatinya makhmum (dibersihkan) dan lisannya (ucapannya) benar’. Para sahabat berkata, ‘Perkataannya benar telah kami ketahui maksudnya, lantas apakah maksud dari hati yang makhmum?’ Beliau ﷺ bersabda,
((هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ))
‘Hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa dan kezaliman padanya, serta kedengkian dan hasad’.”(HR. Ibnu Majah )
Pertama, susah khusyuk dalam salat.
Hati yang bersih membuat salat terasa khusyuk. Sebaliknya, hati yang sakit membuat khusyuk terasa jauh. Saat salat, pikirannya berkelana ke dunia, memikirkan ini dan itu, ingin segera selesai. Maka, siapa di antara kita yang merasakannya, ketahuilah, hatinya sedang bermasalah.
Kedua, tidak betah berlama-lama dalam membaca al-Qur`an.
‘Utsman bin ‘Affan RA pernah berkata,
((لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ))
“Kalau saja hati kalian suci bersih, niscaya kalian tidak akan pernah puas dari kalamullah (al-Qur`an).”(Az-Zuhd li-Ahmad bin Hanbal)
Bila seseorang tak betah membaca al-Qur`an, baru setengah lembar sudah mengantuk dan ingin berhenti, padahal sanggup berlama-lama menatap layar dan berita sambil asyik, maka tak perlu diragukan lagi, hatinya sedang bermasalah.
Ketiga, mudah suuzan (berburuk sangka) terhadap orang lain.
Tentu masih banyak tanda yang lain. Dan diam-diam, kita masing-masing tahu penyakit apa yang bersarang di hati, kotoran yang menumpuk bertahun-tahun karena tak pernah dibersihkan. Kita sibuk merawat wajah. Padahal kelak kita menghadap Allah ﷻ bukan dengan wajah yang cantik atau tampan, melainkan dengan hati. Hati yang bersih.
Menjaga Lisan.
Menjaga lisan adalah salah satu jalan menuju hati yang bersih. Nabi Muhammad ﷺ telah mengisyaratkannya dalam sabda beliau,
((لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ))
“Tidak akan lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya, dan hati tidak akan lurus hingga lurus lisannya.”([15])
Hadis ini dalil yang amat kuat, bahwa lisan punya pengaruh besar atas hati.
Ketahuilah suatu ketika Abu Bakar radhiallahu anhu pernah memegang lisannya kemudian berkata,
((هَذَا الَّذِي أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ))
“Inilah yang menyebabkan saya banyak terjebak dalam kehancuran.”([16])
Memperbanyak Istigfar.
Di antara pembersih hati adalah memperbanyak istigfar. Inilah amalan yang sangat dijaga Nabi Muhammad ﷺ. Bila ada sesuatu yang mengusik hati beliau, beliau pun beristigfar kepada Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ))
“Sesungguhnya ada yang mengganggu hatiku, dan sesungguhnya aku beristigfar kepada Allah ﷻ seratus kali dalam sehari.”(HR. Muslim)
Dalam hadis yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda,
((إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾))
“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dicatat dalam hatinya sebuah titik hitam, dan apabila ia meninggalkannya dan beristigfar (meminta ampun) serta bertobat, hatinya dibersihkan. Dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya, dan itulah yang namanya ‘Ar-Raan’ yang Allah sebutkan, ‘Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka’.” (QS. Al-Muthaffifîn: 14).”(HR. At-Tirmidzi)
kata Ibnul Qayyim rahimahullâh,
((واللهِ لَوْ أنّ القلوبَ سليمةٌ … لتقطعتْ أسفًا مِنَ الحرمانِ))
“Demi Allah, jika hati itu selamat (bersih) niscaya hatinya akan tercabik-cabik sebab terhalang dari kebaikan.”(Lathâ`if al-Ma’ârif (hlm. 139))
Jangan terlalu banyak tahu tentang urusan orang lain.
Di antara pembersih hati adalah menahan diri dari mengurusi urusan orang, dan dari mendengar keburukan mereka. Berat? Memang berat. Siapa di zaman ini yang sanggup menahan diri darinya? Sedikit sekali.
dalam Sunan Abu Daud, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ))
“Janganlah seorang dari sahabatku menyampaikan sesuatu tentang orang lain kepadaku, sesungguhnya aku ingin menemui kalian dengan hati yang bersih.”(HR. Abu Daud, No. 4860, HR. At-Tirmidzi, No. 3896, dan yang lainnya. Dinyatakan hasan oleh Ahmad Syakir namun dinyatakan daif oleh al-Albani.)
Karena itu, hendaknya kita berusaha tak mendengar keburukan orang lain. Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullâh berkata,
((أَفْضَلُ الأَعْمَالِ سَلَامَةُ الصَّدْرِ مِنْ أَنْوَاعِ الشَّحْنَاءِ كُلِّهَا))
“Sebaik-baik amal-amalan adalah bersihnya hati dari segala bentuk permusuhan.”([21])
Oleh karenanya di antara doa yang diajarkan dalam al-Qur`an adalah sebagaimana firman Allah ﷻ,
﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Berusaha tenteram dan bahagia tatkala sendirian.
Hal ini telah diisyaratkan Nabi Muhammad ﷺ, tatkala beliau berbicara tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah ﷻ pada hari kiamat. Salah satunya, kata beliau,
((رَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ))
“Seseorang yang berzikir kepada Allah tatkala sendiri hingga meneteskan air matanya.”([22])
Karena itu, bila kita hanya bisa khusyuk di tengah keramaian, sementara saat sendiri tak mampu, itu pertanda hati sedang bermasalah. Maka sisihkanlah waktu untuk menyendiri, dan latih diri agar nyaman di dalamnya.
Jangan biasakan diri selalu berkumpul dan bertemu kawan. Sediakan waktu lebih banyak untuk sendiri. Di saat itu, renungi diri, renungi kesalahan, baca al-Qur`an, dirikan salat. Amalan-amalan itu tak perlu dipamerkan. Biarkan ia menjadi rahasia, antara kita dan Allah ﷻ. Abu Hazim rahimahullâh berkata,
((اكْتُمْ حَسنَاتِكَ كَمَا تَكتُمُ سَيِّئَاتِكَ))
“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu, sebagaimana engkau menyembunyikan kesalahan-kesalahanmu.”(Siyar A’lâm an-Nubalâ`, tahkik al-Arnauth (6/100).)
Nyaman dalam kesendirian adalah perkara yang harus dilatih. Karena itu ada syariat iktikaf, ada salat malam. Semua itu melatih kita untuk betah dan bahagia saat sendiri. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang amalan yang membuat seseorang dinaungi Allah ﷻ,
((وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ))
“Dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah.”(HR. Al-Bukhari)
Bertemu karena Allah ﷻ, misalnya, berjumpa dengan sahabat dalam majelis ilmu, atau berkumpul untuk menyantuni anak yatim, orang miskin, dan para janda. Lalu mereka berpisah karena Allah ﷻ, kembali ke rumah menunaikan kewajiban masing-masing sebagai suami atau istri. Jadi ada pertemuan karena Allah ﷻ, dan ada perpisahan karena Allah ﷻ. Dan justru perpisahan itulah yang perlu dilatih. Sebab bila tidak, kita akan terus menuruti keinginan berlama-lama bersama kawan, hingga banyak kewajiban yang terbengkalai.
Banyak berzikir kepada Allah ﷻ.
Di antara pembersih hati adalah berzikir kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
“(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah ﷻ. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Semakin banyak kita mengingat Allah ﷻ, semakin banyak pula Dia mengingat kita. Allah ﷻ berfirman,
﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ﴾
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Maka jelaslah, orang yang sering mengingat Allah ﷻ akan bahagia. Sebaliknya, orang yang jauh dari-Nya, yang sibuk dengan dunia, akan dilupakan oleh-Nya. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَمَنْ أعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا ونَحْشُرُهُ يَوْمَ القِيامَةِ أَعْمَى١٢٤ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا١٢٥ قَالَ كَذَلِكَ أتَتْكَ آيَاتُنا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ اليَوْمَ تُنْسَى﴾
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?’ Dia (Allah) berfirman, ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan’.” (QS. Thâhâ: 124-126)
Melatih diri untuk ikhlas.
Di antara pembersih hati adalah melatih diri untuk ikhlas. Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Si’di rahimahullâh berkata dalam tafsirnya,
((فَعنوانُ سعادةِ العبدِ إخلاصُهُ لِلْمعبودِ، وَسَعيُهُ فِيْ نفعِ الخَلْقِ))
“Tanda kebahagiaan seorang hamba adalah ikhlas kepada yang disembah (yaitu Allah), dan dia berusaha memberi manfaat kepada orang lain.”
Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ خَبِيءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ))
“Barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk memiliki amal saleh yang tersembunyi maka lakukanlah.”(HR. Ibnu Abi Syaibah, No. 35768, dinyatakan sahih oleh al-Albani )
Membantu orang lain.
Suatu hari, seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ mengeluhkan hatinya yang keras. Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ))
“Jika engkau ingin hatimu menjadi lembut maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.”(HR. Ahmad, No. 7576, dinyatakan hasan oleh al-Albani.)
Tidak memasukkan dunia ke dalam hati.
Simaklah sabda Nabi Muhammad ﷺ,
((وَالفَخْرُ وَالخُيَلاَءُ فِي أَهْلِ الخَيْلِ وَالإِبِلِ))
“Keangkuhan dan kesombongan terletak pada para pemilik kuda dan unta.”(HR. Al-Bukhari)
Lihatlah Nabi Muhammad ﷺ. Dahulu seorang sahabat mengeluhkan tempat tidur beliau yang hanya tikar, karena membekas di tubuh beliau. Namun beliau bersabda,
((مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا))
“Apa urusanku dengan dunia, aku di dunia tidak lain seperti pengendara yang bernaung di bawah pohon setelah itu pergi dan meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi, No. 2377, dinyatakan sahih oleh al-Albani.)
Senantiasa menerima takdir Allah ﷻ.
Di antara pembersih hati adalah senantiasa menerima takdir Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,
﴿مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾
“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghâbun: 11)
Sungguh, segala yang telah dan akan menimpa kita telah tercatat di Lauhul Mahfuz, lima puluh ribu tahun sebelum Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
((فَتَعْلَمَ أنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ))
“Ketahuilah, sesungguhnya yang menjadi bagianmu tidak akan lepas darimu, dan sesuatu yang bukan milikmu maka tidak akan menjadi bagianmu.”(HR. Ibnu Majah, No. 62, dinyatakan sahih oleh al-Albani.)
Karena itu, siapa yang diuji Allah ﷻ, hendaknya ia menjalaninya dengan pasrah dan bertawakal kepada-Nya. Sebab di balik musibah itu pasti tersimpan hikmah yang luar biasa. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾
“Dan barang siapa beriman (pasrah) kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghâbun: 11)
Doa.
Di antara pembersih hati adalah doa. Bahkan doa adalah sebab yang paling utama dari sembilan kiat sebelumnya. Salah satu doa yang Nabi Muhammad ﷺ ajarkan untuk membersihkan hati adalah doa yang sering kita dengar,
((اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ))
“Ya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.”(HR. Al-Bukhari, )
Doa berikutnya, sebagaimana telah kita sebut di awal, doa yang ada di dalam al-Qur`an,
﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Doa berikutnya terdapat dalam sebuah hadis yang cukup panjang. Di penghujungnya, Nabi Muhammad ﷺ berdoa,
((رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي، وَأَجِبْ دَعْوَتِي، وَاهْدِ قَلْبِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي، وَثَبِّتْ حُجَّتِي، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي))
“Wahai Rabbku, terimalah tobatku, hapuskanlah kesalahanku, terimalah doaku, berilah hatiku petunjuk, kuatkanlah lisanku, tetapkanlah pendirianku dan hilangkanlah rasa dengki dari hatiku.”(HR. Ibnu Majah, No. 3103, HR. Abu Daud, No. 1510, dinyatakan sahih oleh al-Albani.)
Penutup
firman Allah ﷻ,
﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مالٌ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾
“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah ﷻ dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’arâ`: 88-89)
Agar ibadah diterima di sisi Allah, haruslah terpenuhi dua syarat, yaitu:
Ikhlas karena Allah.
Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’).
firman Allah Ta’ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.” (QS. Al Kahfi: 110)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita, pen)”. HR. Bukhari
Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” HR. Bukhari
1. Hasad
Penyakit hati yang pertama adalah hasad atau iri hati. Hasad disebut juga sebagai dengki, yang merupakan sifat seseorang yang tidak suka jika orang lain mendapatkan kebahagiaan. Hasad merupakan salah satu penyakit hati yang berbahaya karena dapat merusak hubungan sosial dan spiritual seseorang, dan dapat menghalangi kesuksesan dan kebahagiaan hidup.
Dalam Islam, hasad dianggap sebagai tindakan yang dilarang dan dikecam. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa ayat Al-Quran, misalnya dalam surat Al-Falaq ayat 5:
وَمِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ
Artinya: “Dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
Penyakit hasad juga disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW sebagai berikut:
“Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu”. (HR. Abu Dawud).
2. Sombong
Penyakit hati yang kedua yaitu sombong atau disebut juga takabur, yang merupakan perilaku atau sikap merasa lebih tinggi dan lebih baik dari orang lain, serta meremehkan atau merendahkan orang lain. Sombong adalah salah satu penyakit hati yang sangat dikecam karena dapat menghambat keberhasilan dan kesuksesan seseorang serta merusak hubungan sosial.
Perilaku sombong bertentangan dengan ajaran Islam yang menganjurkan untuk senantiasa berpegang pada kebenaran dan selalu berusaha untuk memperbaiki diri agar lebih baik. Allah berfirman dalam Al-Quran QS. Al-Isra ayat 37:
وَلَا تَمۡشِ فِى الۡاَرۡضِ مَرَحًا ۚ اِنَّكَ لَنۡ تَخۡرِقَ الۡاَرۡضَ وَلَنۡ تَبۡلُغَ الۡجِبَالَ طُوۡلًا
Artinya: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”
3. Riya’
Riya’ adalah tindakan atau perilaku yang dilakukan seseorang untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya adalah seorang yang taat beragama atau memiliki amal kebaikan. Namun tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan keridhaan Allah, melainkan untuk mendapatkan pujian, pengakuan, atau penghargaan dari orang lain.
Riya’ adalah salah satu bentuk penyakit hati yang dapat menghambat keberhasilan dan kesuksesan seseorang serta mempengaruhi hubungannya dengan Allah. Allah berfirman dalam Al-Quran QS Al-Baqarah ayat 264:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِكُمۡ بِالۡمَنِّ وَالۡاَذٰىۙ كَالَّذِىۡ يُنۡفِقُ مَالَهٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلۡدًا ؕ لَا يَقۡدِرُوۡنَ عَلٰى شَىۡءٍ مِّمَّا كَسَبُوۡا ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡـكٰفِرِيۡنَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
4. Kikir
Kikir dalam Islam adalah sifat atau perilaku yang menunjukkan sikap enggan memberikan sesuatu, atau memberikan sesuatu dengan hati yang tidak tulus. Kikir sering dikaitkan dengan sikap pelit dan serakah, di mana seseorang tidak rela memberikan kebaikan atau bantuan kepada orang lain.
Allah juga menyinggung orang-orang yang kikir dalam Al-Quran QS Al-Imran ayat 180:
وَلَا يَحۡسَبَنَّ الَّذِيۡنَ يَبۡخَلُوۡنَ بِمَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنۡ فَضۡلِهٖ هُوَ خَيۡـرًا لَّهُمۡؕ بَلۡ هُوَ شَرٌّ لَّهُمۡؕ سَيُطَوَّقُوۡنَ مَا بَخِلُوۡا بِهٖ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ ؕ وَ لِلّٰهِ مِيۡرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِؕ وَاللّٰهُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِيۡرٌ
Artinya: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
5. Ujub
Ujub dalam Islam adalah sifat atau perilaku yang menunjukkan rasa bangga atau merasa lebih dari orang lain atas amalan atau prestasi yang telah dicapai. Ujub juga masih berkaitan dengan sikap sombong dan merasa diri sendiri lebih baik daripada orang lain.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga menyebut ujub dapat membawa pada jurang kebinasaan, yang terdapat dalam hadis berikut:
“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri).” (H.R. Abdur Razaq, hadist hasan).
6. Cinta Dunia
Dalam Islam, cinta dunia dapat memiliki dua makna yang berbeda, yaitu cinta terhadap keindahan dan kebaikan yang diciptakan oleh Allah di dunia, dan cinta yang berlebihan terhadap kekayaan, kedudukan, dan kesenangan duniawi yang dapat mengganggu keseimbangan hidup seseorang dan mengganggu hubungannya dengan Allah.
Cinta terhadap keindahan dan kebaikan yang diciptakan oleh Allah SWT di dunia sangat dianjurkan dalam Islam karena dapat memperkuat hubungan seseorang dengan Allah. Sebaliknya, cinta yang berlebihan terhadap kekayaan, kedudukan, dan kesenangan duniawi sangat dilarang karena dapat membuat seseorang menjadi terbutakan.
Nabi Muhammad SAW pernah menyinggung perilaku cinta dunia dalam haditsnya:
“ … ‘Akan datang suatu masa umat lain akan memperebutkan kamu ibarat orang-orang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan,’ Sahabat bertanya, ‘Apakah lantaran pada waktu itu jumlah kami hanya sedikit, Wahai Rasulullah?’. Dijawab oleh beliau, ‘Bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas laut, dan dalam jiwamu tertanam kelemahan jiwa,’ Sahabat bertanya, ‘Apa yang dimaksud kelemahan jiwa, Ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Cinta dunia dan takut mati’,” (H.R. Abu Daud).
7. Buruk Sangka
Dalam Islam, sifat berburuk sangka disebut juga dengan su’udzan, yang merupakan sikap di mana seseorang memiliki prasangka buruk terhadap sesuatu tanpa alasan yang jelas atau bukti yang cukup. Dalam Islam, buruk sangka dianggap sebagai salah satu dosa besar yang harus dihindari karena dapat merusak hubungan sosial dan kepercayaan antara sesama manusia.
Allah melarang umat Islam memiliki sifat buruk sangka. Dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 12 Allah berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اجۡتَنِبُوۡا كَثِيۡرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعۡضَ الظَّنِّ اِثۡمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوۡا وَلَا يَغۡتَبْ بَّعۡضُكُمۡ بَعۡضًا ؕ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمۡ اَنۡ يَّاۡكُلَ لَحۡمَ اَخِيۡهِ مَيۡتًا فَكَرِهۡتُمُوۡهُ ؕ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ؕ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيۡمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.”
8. Sum’ah
Sum’ah berasal dari kata sama’a yang artinya adalah memperdengarkan. Maksud dari sum’ah adalah perbuatan memperdengarkan ibadah-ibadah yang telah dilakukan kepada orang lain dengan sengaja untuk memperoleh pujian. Sifat ini mirip-mirip dengan sifat riya’, namun antara riya’ dan sum’ah ada perbedaan. Riya’ berkaitan dengan indra mata, sedangkan sum’ah berkaitan dengan indra telinga.
Rasulullah SAW memperingatkan umat Islam dalam haditsnya:
Artinya: “Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya.” (HR. Bukhari)
Diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maknanya adalah diumumkan aib-aibnya di akhirat di depan umat manusia. Sedangkan dibalas dengan riya, artinya adalah diperlihatkan pahala amalnya, akan tetapi tidak diberi pahala kepadanya.
9. Taqtir
Taqtir bisa juga disebut sebagai pelit. Orang-orang yang bersifat taqtir tidak mau jika sesuatu miliknya dibagi kepada orang lain secara cuma-cuma. Padahal pahala sedekah begitu luar biasa. Sifat taqtir masih berkaitan dengan sifat kikir yang juga dilarang oleh Allah SWT.
10. Panjang Angan-Angan
Penyakit hati terakhir yang tidak boleh dimiliki adalah panjang angan-angan. Perilaku ini sangat berbahaya karena seseorang akan terlalu fokus dengan keinginannya, sehingga melalaikannya dari perkara wajib dan kebaikan lainnya. Seolah banyak waktu yang dimilikinya untuk menjalankan kewajiban tersebut setelah angan-angannya tercapai.
“Orang berakal adalah yang tidak panjang angan-angannya. Karena, siapa saja yang kuat angan-angannya, maka amalnya lemah. Siapa saja yang dijemput ajalnya, maka angan-angannya pun tidak ada gunanya. Orang berakal tidak akan meninggal tanpa bekal; berdebat tanpa hujah dan berbenturan tanpa kekuatan. Dengan akal, jiwa akan hidup; hati akan terang; urusan akan berjalan dan dunia akan berjalan.” (Ibnu Hayyan al-Basti, Raudhatu al-‘Uqala’ wa Nuzhatu al-Fudhala’)
Kantor Advokat dan Konsultan Hukum
Himawan Dwiatmodjo & Rekan
Jl. Rawa Kuning, Pulogebang, Jakarta Timur, DKI Jakarta, Indonesia
Email: lawyerhdp@gmail.com
https://bekalislam.firanda.com/4556-mereka-mengetahui-nikmat-allah-kemudian-mengingkarinya-bab-40.html
https://bekalislam.firanda.com/4646-hukum-mengucapkan-seandainya-bab-56.html
https://bekalislam.firanda.com/4656-mengingkari-takdir-bab-59.html